<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SMA NEGERI 2 TARAKAN</title>
	<atom:link href="http://sman2tarakan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sman2tarakan.wordpress.com</link>
	<description>BLOG Wahana Komunikasi Warga SEKOLAH</description>
	<lastBuildDate>Sun, 31 May 2009 13:17:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sman2tarakan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SMA NEGERI 2 TARAKAN</title>
		<link>http://sman2tarakan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sman2tarakan.wordpress.com/osd.xml" title="SMA NEGERI 2 TARAKAN" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sman2tarakan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gaji DPR vs Gaji Guru</title>
		<link>http://sman2tarakan.wordpress.com/2009/05/26/gaji-dpr-vs-gaji-guru/</link>
		<comments>http://sman2tarakan.wordpress.com/2009/05/26/gaji-dpr-vs-gaji-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 14:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman2tarakan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman2tarakan.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Gaji DPR = Gaji Guru Bila Anda seorang Guru, pasti Anda paham betul gaji Anda tidaklah cukup untuk hidup selama sebulan. Kalau gaji Anda cukup untuk hidup sebulan, bisa dipastikan Anda adalah guru yang masih bujangan. Bila Anda sudah berkeluarga, pasti pas-pasan atau bisa jadi tidak cukup; apalagi Anda sudah punya anak, dan anaknya lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=75&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gaji DPR = Gaji Guru</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-84" title="gaji_guru_pakarfisika" src="http://sman2tarakan.files.wordpress.com/2009/05/gaji_guru_pakarfisika6.jpg?w=128&#038;h=87" alt="gaji_guru_pakarfisika" width="128" height="87" /> Bila Anda seorang Guru, pasti Anda paham betul gaji Anda tidaklah cukup untuk hidup selama sebulan. Kalau gaji Anda cukup untuk hidup sebulan, bisa dipastikan Anda adalah guru yang masih bujangan. Bila Anda sudah berkeluarga, pasti pas-pasan atau bisa jadi tidak cukup; apalagi Anda sudah punya anak, dan anaknya lebih dari satu…</p>
<p>itulah jeritan sebagian besar guru di negeri gemah-ripah loh jinawi ini<span id="more-75"></span></p>
<p>Sebentar lagi, kita akan memilihi calon wakil kita di kursi Dewan, baik daerah maupun pusat. Pemilu 2009 adalah pemilu yang melibatkan calon anggota legislatif (caleg) terbanyak. Namun demikian, diprediksi Pemilu 2009 ini adalah pemilu dengan peserta yang paling sedikit di antara pemilu-pemilu sebelumnya.</p>
<p>Banyak anggota masyarakat calon pemilih aktif yang enggan menggunakan hak pilihnya. Hal ini diduga disebabkan karena (terlalu) banyak anggota Dewan tidak melaksanakan amanah sebagaimana janji yang pernah mereka lontarkan ketika masa kampanye. Mereka lebih suka tidur atau nyambi pekerjaan lain pada saat bertugas. Sebenarnya, berapa sih gaji para anggota DPR RI? Penerimaan anggota DPR terbagi menjadi tiga kategori, yaitu :<br />
Gaji rutin perbulan, rutin non perbulan, dan sesekali (insidentil)</p>
<p>Gaji Rutin Per Bulan, meliputi :<br />
§         Gaji pokok                                :     Rp     15.510.000<br />
§         Tunjangan listrik                   :     Rp      5. 496.000<br />
§         Tunjangan Aspirasi              :     Rp       7.200.000<br />
§         Tunjangan Kehormatan     :     Rp       3.150.000<br />
§         Tunjangan Komunikasi       :     Rp     12.000.000<br />
§         Tunjangan Pengawasan      :     Rp       2.100.000</p>
<p>Total (per bulan)                              :     Rp     46.100.000</p>
<p>Total Pertahun                                  :     Rp   554.000.000</p>
<p>Masing-masing anggota DPR mendapatkan gaji yang sama.</p>
<p>Gaji non bulanan atau non rutin, meliputi :<br />
§         Gaji ke-13 (tiap bulan Juni) :     Rp     16.400.000<br />
§         Dana penyerapan (reses)     :     Rp     31.500.000</p>
<p>Dalam satu tahun sidang ada empat kali reses jika di total<br />
selama pertahun totalnya sekitar :   Rp 118.000.000,-</p>
<p>Gaji sewaktu-waktu yaitu:<br />
§         Intensif pembahasan rencangan<br />
undang-undang dan honor melalui Uji Kelayakan dan</p>
<p>Kepatutan (per kegiatan)       :    Rp    5.000.000<br />
§         Dana kebijakan intensif legislatif (per RUU)</p>
<p>:  Rp    1.000.000</p>
<p>Jika dihitung jumlah keseluruhan, maka gaji yang diterima<br />
anggota DPR dalam setahun mencapai hampir</p>
<p>—&gt; 1 milyar rupiah.</p>
<p>Data Tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah per tahun dana yang diterima anggota DPR mencapai Rp 761.000.000, dan di Tahun 2007 mencapai Rp 787.100.000.</p>
<p>Jika dianggap kenaikannya linier per tahun; maka untuk<br />
periode 2009-2013 akan diterima sebesar Rp. 4.5 miliar (ini penghasilan minimal atau bruto, belum termasuk sabetan-sabetannya) .<br />
Gaji anggota PR RI ini setara pendapatan gaji guru SD yang Cuma Rp 2 juta per bulan selama 170 tahun. Subhaanallah… !</p>
<p>Maka pantaslah jika mereka mengejar kursi DPR dengan segala<br />
daya upaya, bahkan ada yg menghabiskan 1 miliar, belum lagi dana pensiunan yang mereka dapatkan ketika tidak lagi menjabat.</p>
<p>Di China, kalau pejabat tidur saat rapat langsung dipecat, lihat [ Nusantara News ].</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman2tarakan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman2tarakan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman2tarakan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman2tarakan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman2tarakan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman2tarakan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman2tarakan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman2tarakan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman2tarakan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman2tarakan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman2tarakan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman2tarakan.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman2tarakan.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman2tarakan.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=75&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman2tarakan.wordpress.com/2009/05/26/gaji-dpr-vs-gaji-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/529753d2450987c473b7ed59a2e59d73?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sman2tarakan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sman2tarakan.files.wordpress.com/2009/05/gaji_guru_pakarfisika6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gaji_guru_pakarfisika</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PTK ( Penelitian Tindakan Kelas ) 2008</title>
		<link>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/09/07/ptk-penelitian-tindakan-kelas-2008/</link>
		<comments>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/09/07/ptk-penelitian-tindakan-kelas-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 13:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman2tarakan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman2tarakan.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH) Apakah Penelitian Tikdakan Kelas (PTK) itu ? Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran. Berdasarkan jumlah dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=59&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;" align="center"><strong><span style="color:red;">PENELITIAN TINDAKAN KELAS<br />
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)<br />
</span></strong><strong><span style="font-size:7.5pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Apakah Penelitian Tikdakan Kelas (PTK) itu ?</span></strong><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Verdana;"> </span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.</span><span id="more-59"></span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kaloboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kaloboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">PTK memeliki sejumlah karakteristik sebagai berikut :</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian.</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan &#8220;sekali tembak&#8221; selesai pelaksanaannya.</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip.</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang diteliti pula.</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti.</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya menuntut penggunaan statistik yang sederhana, bukan yang rumit.</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.</span><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tujuan PTK sebagai berikut :</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas agar pembelajaran bermutu.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi.</span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Manfaat PTK</span></strong></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung professionalisme dan karir guru.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mampu mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antar-guru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan , kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswa pun dapat meningkatkan.</span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;margin:0 30pt 0.0001pt 44pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dapat mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, dan melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.</span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Prosedur Pelaksanaan PTK</span></strong></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">1. Menyusun proposal PTK. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan kegiatan pokok, yaitu; (1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai metode atau cara, (2) menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan pendekatan, strategi, media, atau kiat tertentu, (3) memilih dan merumuskan masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya, (4) menetapkan tujuan pelaksanaan PTK sesuai dengan masalah yang ditetapkan, (5) memilih dan menyusun persfektif, konsep, dan perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK, (6) menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan, (7) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data PTK, (8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK.</span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;">
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">2. Melasanakan siklus (rencana tindakan) di dalam kelas. Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan refleksi. baik pelaksanaan tindakan, pengamatan maupun refleksi dapat dilakukan secara beiringan, bahkan bersamaan. Semua hal yang berkaitan dengan hal diatas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya.</span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">3. Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data tahap perencanaan, pelaksnaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. Setelah itu, perlu dibuat kesimpulan dan rumusan saran.</span></p>
<p style="margin:0 30pt 0.0001pt 8pt;"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">4. Menulis laporan PTK, yang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan menganalisis data. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan hasil-hasil PTK. Paparan hasil PTK ini disatukan dengan deskripsi masalah, rumusan masalah, tujuan, dan kajian konsep atau teoritis. </span></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span>SISTEMATIKA PROPOSAL PTK</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">JUDUL</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Judul PTK hendaknya dinyatakan dengan akurat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Formulasi judul hendaknya singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok PTK bukan sosok penelitian formal.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">LATAR BELAKANG MASALAH</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dalam latar belakang permasalahan ini hendaknya diuraikan urgensi penanganan permasalahan yang diajukan itu melalui PTK. Untuk itu, harus ditunjukkkan fakta – fakta yang mendukung, baik yang berasal dari pengamatan guru selama ini maupun dari kajian pustaka. Dukungan berupa hasil penelitian –penelitian terdahulu, apabila ada juga akan lebih mengokohkan argumentasi mengenai urgensi serta signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui PTK yang diusulkan itu. <span lang="NO-BOK">Karakteristik khas PTK yang berbeda dari penelitian formal hendaknya tercermin dalam uraian di bagian ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">PERMASALAHAN</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini. Masalah hendaknya benar – benar di angkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya permasalahan yang dimaksud seyogyanya bukan permasalahan yang secara teknis metodologik di luar jangkauan PTK. Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran permasalahan yang perlu di tangani itu nampak menjadi perumusan masalah tersebut. Dalam bagian ini dikunci dengan perumusan masalah tersebut. Dalam bagian inipun, sosok PTK harus secara konsisten tertampilkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">CARA PEMECAHAN MASALAH</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Dalam bagian ini dikemukakan cara yang diajukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Alternatif pemecahan yang diajukan hendaknya mempunyai landasan konseptual yang mantap yang bertolak dari hasil analisis masalah. Disamping itu, juga harus terbayangkan kemungkinan kemanfaatan hasil pemecahan masalah dalam rangka pembenahan dan/atau peningkatan implementasi program pembelajaran dan/atau berbagai program sekolah lainnya.Juga harus dicermati artikulasi kemanfaatan PTK berbeda dari kemanfaatan penelitian formal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT PENELITIAN</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara jelas.paparkan sasaran antara dan akhir tindakan perbaikan.perumusan tujuan harus konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian – bagian sebelumnya. Dengan sendirinya,artikulasi tujuan PTK berbeda dari tujuan formal. Sebagai contoh dapat dikemukakan PTK di bidang IPA yang bertujuan meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran IPA melalaui penerapan strategi PBM yang baru, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar mengajar dan sebagainya. Pengujian dan/atau pengembangan strategi PBM baru bukan merupakan rumusan tujuan PTK. Selanjutnya ketercapaian tujuan hendaknya dapat diverfikasi secara obyektif.Syukur apabila juga dapat dikuantifikasikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Disamping tujuan PTK, juga perlu diuraikan kemungkinan kemanfaatan penelitian. Dalam hubungan ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan – keuntungan yang dijanjikan, khususnya bagi siswa sebagai pewaris langsung (direct beneficiaries) hasil PTK, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi rekan – rekan guru lainnya serta bagi para dosen LPTK sebagai pendidik guru. Berbeda dari konteks penelitian formal, kemanfaatan bagi pengembangan ilmu. Teknologi dan seni tidak merupakan prioritas dalam konteks PTK, meskipun kemungkinan kehadirannya tidak ditolak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">KERANGKA TEORETIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Pada bagian ini diuraikan landasan substantive dalam arti teoritik dan/atau metodologik yang dipergunakan peneliti dalam menentukan alternative, yang akan diimplementasikan. Untuk keperluan itu, dalam bagian ini diuraikan kajian baik pengalaman peneliti pelakju PTK sendiri nyang relevan maupun pelaku – pelaku PTK lain disamping terhadap teori – teori yang lazim termuat dalam berbagai kepustakaan. Argumentasi logic dan teoretik diperlukan guna menyusun kerangka konseptual. Aras kerangka konseptual yang disusun itu, hipotesis tindakan dirumuskan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">RENCANA PENELITIAN</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Setting penelitian dan karakteristik subjek penelitian</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Pada bagian ini disebutkan di mana penelitian tersebut dilakukan, di kelas berapa dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita. Latar belakang sosial ekonomi yang mungkin relevan dengan permasalahan,tingkat kemampuan dan lain sebagainya. Aspek substantive permasalahan seperti Matematika kelas II SMPLB atau bahasa inggris kelas III SMLB, juga dikemukakan pada bagian ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Variabel yang diselidiki</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Pada bagian ini ditentukan variabel – variabel penelitian yang dijadikan titik – titik incar untuk menjawab permasalahan yang dihadapi. Variabel tersebut dapat berupa (1) variabel input yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi, lingkungan belajar, dan lain sebagainya; (2) variabel proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar-mengajar, keterampilan bertanya, guru, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi berbagai metode mengajar di kelas, dan sebagainya, dan (3) varaibel output seperti rasa keingintahuan siswa, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan, motivasi siswa, hasil belajar siswa, sikap terhadap pengalaman belajar yang telah digelar melalui tindakan perbaikan dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Rencana Tindakan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran, seperti :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai seperti penetapan entry behavior. Pelancaran tes diagnostic untuk menspesifikasi masalah. Pembuatan scenario pembelajaran, pengadaan alat – alat dalam rangka implementasi PTK, dan lain – lin yang terkait bdengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Disamping itu juga diuraikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Disamping itu juga diuraikan alternative – alternative solusi yang akan dicobakan dalam rangka perbaikan masalah. Format kemitraan antara guru dengan dosen LPTK juga dikemukakan pada bagian ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Implementasi Tindakan yaitu deskripsi tindakan yang akan di gelar. Scenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Observasi dan Interpretasi yaitu uraian tentang prosedur perekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Analisis dan Refleksi yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan digelar, personel yang akan dilibatkan serta kriteria dan rencana bagi tindakan daur berikutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Data dan cara pengumpilannya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan baik proses maupun dampak tindakan perbaikan yang di gelar, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kekurangberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan. Format data dapat bersifat kualitatif, kuantitatif, atau kombinasi keduanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Di samping itu teknik pengumpilan data yang diperlukan juga harus diuraikan dengan jelas seperti melalui pengamatan partisipatif, pembuatan juranal harian, observasi aktivitas di kelas (termasuk berbagai kemungkinan format dan alat bantu rekam yang akan digunakan)penggambaran interaksi dalam kelas (analisis sosiometrik), pengukuran hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen dan sebagainya.selanjutnya dalam prosedur pengumpulan data PTK ini tidak boleh dilupakan bahwa sebagai pelaku PTK, Para guru juga harus aktif sebagai pengumoul data, bukan semata – mata sebagai sumber data.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Akhirnya semu teknologi pengumpulan data yang digunakan harus mendapat penilaian kelaikan yang cermat dalam konteks PTK yang khas itu. Sebab meskipun mungkin saja memang menjanjikan mutu rekaman yang jauh lebih baik. Penggunaan teknologi perekaman data yang canggih dapat saja terganjal keras pada tahap tayang ulang dalam rangka analisis dan interpretasi data.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Indikator kinerja</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Pada bagaian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara eksplisit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindak perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa misalnya perlu ditetapkan kriteria keberhasilan dalam bentuk pengurangan (njumlah jenis dan atau tingkat kegawatan)miskonsepsi yang tertampilkan yang patut diduga sebagai dampak dari implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Tim peneliti dan tugasnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Pada bagian ini hendaknya dicantumakan nama – nama anggota tim peneliti dan uraian tugas peran setiap anggota tim peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">JADWAL PENELITIAN</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matriks yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">RENCANA ANGGARAN</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Komponen – komponen pembiayaan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Rencana anggaran meliputi kebutuhan dukungan financial untuk tahap persiapan pelaksanan penelitian, dan pelaporan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Secara lebih rinci, pembiayaan yang termasuk dalam setiap bidang adalah sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Persiapan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Kegiatan persiapan antara lain meliputi pertemuan anggota tim peneliti untuk menetapkan jadwal penelitian dan pembagian kerja, menyusun instrument penelitian, menetapkan format pengumpulan data, menetapkan teknik analisis data, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Kegiatan operasional di lapangan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Dalam kegiatan operasional dapat tercakup antara lain pelancaran tes diagnostic dan analisis hasilnya, gladi resik implementasi tindakan, perbaikan, pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi pelaksanaan tindakan perbaikan, pertemuan refleksi, perencanaan tindakan ulang, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Penyusunan Laporan Hasil PTK</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Pembiayaan yang termasuk dalam bagian ini adalah penyusunan konsep laporan, review konsep laporan, penyusunan konsep laporan akhir. Seminar local hasil penelitian, seminar nasional hasil penelitian, dan sebagainya. Juga termasuk dalam pembiayaan adalah penggandaan dan pengiriman laporan hasil PTK, serta pembuatan artikel hasil PTK dalm bahasa Indonesia dan bahasa Inggris</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Cara Merinci Kegiatan dan Pembiayaan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Biaya penelitian harus dirinci berdasarkan kegiatan operasional yang dijabarkan dari metodologi yang dikemukakan. Agar dapat dihitung biayanya, kegiatan operasional itu harus jelas namanya, tempatnya, lamanya, jumlah pesertanya. Sarana yang diperlukan dan output yang diharapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Beberapa patokan pembiayaan satuan kegiatan penelitian</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Honorarium</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Ketua Peneliti</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Anggota tim peneliti</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Tenaga Administrasi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Besarnya honorarium tergantung pada sumber pandanaan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Bahan dan Peralatan penelitian</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Bahan habis pakai</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Alat habis</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Sewa alat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Perjalanan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Biaya perjalanan sesuai dengan ketentuan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Transportasi local sesuai harga setempat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Lumpsum termasuk konsumsi sesuai dengan ketentuan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Monitoring dari PGSM minimal untuk satu orang, satu kali, selama dua hari</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Konsultasi ketua tim peneliti ke PGSM selama dua hari</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Laporan Penelitian</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Penggandaan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Penyusuinan artikel berbahasa Indonesia dan inggris</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Pengiriman</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Seminar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Seminar lokal, konsumsi sesuai harga setempat, biaya penyelenggaraan sesuai dengan harga setempat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Seminar nasionala minimal untuk dua orang (satu dosen LPTK dan satu guru pelaku PTK)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Daftar Pustaka</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR">Daftar pustaka disusun menurut urutan abjad pengarang . hendaknya pustaka benar – benar relevan dan sungguh – sungguh dipergunakan dalam penelitian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="PT-BR"> </span></p>
<p class="MsoNormal">LAMPIRAN DAN LAIN – LAIN</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bagian lampiran dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim inti. Curriculum vitae tersebut memuat identitas ketua anggota tim peneliti, riwayat pendidikan, pelatihan di bidang penelitian yang telah pernah diikuti, baik sebagai penatar/pelatih maupun sebagai peserta, dan pengalaman dalam penelitian termasuk di PTK.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="NO-BOK">Hal – hal lain yang dapat memperjelas karakteristik kancah PTK yang diusulkan dapat disertakan dalam usulan penelitian ini.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sman2tarakan.wordpress.com/59/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sman2tarakan.wordpress.com/59/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman2tarakan.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman2tarakan.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman2tarakan.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman2tarakan.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman2tarakan.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman2tarakan.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman2tarakan.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman2tarakan.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman2tarakan.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman2tarakan.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman2tarakan.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman2tarakan.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman2tarakan.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman2tarakan.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=59&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/09/07/ptk-penelitian-tindakan-kelas-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/529753d2450987c473b7ed59a2e59d73?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sman2tarakan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mari membuat Kompos Skala rumah tangga</title>
		<link>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/08/14/mari-membuat-kompos-skala-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/08/14/mari-membuat-kompos-skala-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 03:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman2tarakan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman2tarakan.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu dari pola hidup hijau yang dapat kita laksanakan adalah mengelola sampah organic rumah tangga, dengan membuatnya menjadi kompos.Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organic organic. Pembuatannya tidak terlalu rumit, tidak memerlukan tempat luas dan tidak memerlukan banyak peralatan dan biaya. Hanya memerlukan persiapan pendahuluan, sesudah itu kalau sudah rutin, tidak merepotkan bahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=52&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu dari pola hidup hijau yang dapat kita laksanakan adalah mengelola sampah organic rumah tangga, dengan membuatnya menjadi kompos.<code>Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organic organic.<br />
Pembuatannya tidak terlalu rumit, tidak memerlukan tempat luas dan tidak memerlukan banyak peralatan dan biaya. Hanya memerlukan persiapan pendahuluan, sesudah itu kalau sudah rutin, tidak merepotkan bahkan selain mengurangi masalah pembuangan sampah, kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sendiri, tidak perlu membeli.<span id="more-52"></span></p>
<p>Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, zat makanan yang diperlukan tumbuhan akan tersedia. Mikroba yang ada dalam kompos akan membantu penyerapan zat makanan yang dibutuhkan tanaman. Tanah akan menjadi lebih gembur. Tanaman yang dipupuk dengan kompos akan tumbuh lebih baik. Hasilnya bunga-bunga berkembang, halaman menjadi asri dan teduh. Hawa menjadi segar karena oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan.</p>
<p>Bagaimana Kompos Terjadi</p>
<p>Sampah organic secara alami akan mengalami peruraian oleh berbagai jenis mikroba, binatang yang hidup di tanah, enzim dan jamur. Proses peruraian ini memerlukan kondisi tertentu, yaitu suhu, udara dan kelembaban. Makin cocok kondisinya, makin cepat pembentukan kompos, dalam 4 – 6 minggu sudah jadi. Apabila sampah organic ditimbun saja, baru berbulan-bulan kemudian menjadi kompos. Dalam proses pengomposan akan timbul panas krn aktivitas mikroba. Ini pertanda mikroba mengunyah bahan organic dan merubahnya menjadi kompos. Suhu optimal untk pengomposan dan harus dipertahankan adalah 45-65C.Jika terlalu panas harus dibolak-balik, setidak-tidaknya setiap 7 hari.</p>
<p>Peralatan</p>
<p>Di dalam rumah ( ruang keluarga, kamar makan ) dan di depan dapur disediakan 2 tempat sampah yang berbeda warna untuk sampah organic dan sampah non-organic. Diperlukan bak plastic atau drum bekas untuk pembuatan kompos. Di bagian dasarnya diberi beberapa lubang untuk mengeluarkan kelebihan air. Untuk menjaga kelembaban bagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu. Dasar bak pengomposan dapat tanah atau paving block, sehingga kelebihan air dapat merembes ke bawah. Bak pengomposan tidak boleh kena air hujan, harus di bawah atap.</p>
<p>Cara Pengomposan</p>
<p>- Campur 1 bagian sampah hijau dan 1 bagian sampah coklat.<br />
- Tambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan dicampur. Tanah atau kompos ini mengandung mikroba aktif yang akan bekerja mengolah sampah menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak ( ayam atau sapi ) dapat pula dicampurkan .<br />
- Pembuatan bisa sekaligus, atau selapis demi selapis misalnya setiap 2 hari ditambah sampah baru. Setiap 7 hari diaduk.<br />
- Pengomposan selesai jika campuran menjadi kehitaman, dan tidak berbau sampah. Pada minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos, sehingga suhu menjadi sekitar 40C. Pada minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal, kompos sudah jadi.<br />
- Jika perlu diayak untuk memisahkan bagian yang kasar. Kompos yang kasar bisa dicampurkan ke dalam bak pengomposan sebagai activator.</p>
<p>Keberhasilan pengomposan terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu, kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk berkembang biak, ialah makanan cukup (bahan organic), kelembaban (30-50%) dan udara segar (oksigen) untuk dapat bernapas.<br />
Sampah organic sebaiknya dicacah menjadi potongan kecil. Untuk mempercepat pengomposan, dapat ditambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism (EM) yang dapat dibeli di toko pertanian.</p>
<p>Penutup</p>
<p>Apabila setiap rumah tangga melakukan pemilahan sampahnya: yang organic dijadikan kompos, yang non-organik disedekahkan kepada pemulung, maka pemerintah tinggal mengelola sisanya yang 10% saja,yang tidak dapat didaur ulang. Alangkah senangnya pemulung, kalau penghuni rumah sudah memilah sampahnya, sehingga mereka tinggal mengambil kertas, plastic dsb. yang tidak dikotori sisa makanan, tanpa mengobrak-abrik bak sampah (maaf) berebutan dengan anjing dan kucing. Jam kerjanya akan lebih pendek, uang yang diperoleh akan lebih banyak.<br />
Pembuatan kompos ini dapat pula dilakukan secara kolektif, apabila keadaan tidak memungkinkan. Misalnya perumahan padat penduduk, atau apartemen. Pengelolaannya dapat diserahkan kepada RW atau pihak swasta. Namun masing-masing rumah tangga tetap harus melakukan pemilahan sampahnya. Sehingga tidak perlu lagi ada TPA yang memerlukan tanah luas dan menimbulkan masalah pencemaran, bahaya longsor, pendangkalan sungai, penyakit dsb.</p>
<p>Marilah…..kita menjadi pelopor, penggerak keluarga dan masyarakat di sekitar kita.<br />
Selain ikut memelihara lingkungan hidup, juga beribadah.<br />
Mulailah dari yang kecil.<br />
Mulailah dari diri sendiri.<br />
Mulailah sekarang juga.</p>
<p></code></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sman2tarakan.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sman2tarakan.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman2tarakan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman2tarakan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman2tarakan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman2tarakan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman2tarakan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman2tarakan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman2tarakan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman2tarakan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman2tarakan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman2tarakan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman2tarakan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman2tarakan.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman2tarakan.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman2tarakan.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=52&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/08/14/mari-membuat-kompos-skala-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/529753d2450987c473b7ed59a2e59d73?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sman2tarakan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TIK</title>
		<link>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/07/28/tik/</link>
		<comments>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/07/28/tik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 03:16:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman2tarakan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman2tarakan.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[CORELDRAW<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=39&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CORELDRAW</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sman2tarakan.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sman2tarakan.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman2tarakan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman2tarakan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman2tarakan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman2tarakan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman2tarakan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman2tarakan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman2tarakan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman2tarakan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman2tarakan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman2tarakan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman2tarakan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman2tarakan.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman2tarakan.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman2tarakan.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=39&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/07/28/tik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/529753d2450987c473b7ed59a2e59d73?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sman2tarakan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tutorial Dasar CoreldRAW</title>
		<link>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/07/28/tutorial-dasar-coreldraw/</link>
		<comments>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/07/28/tutorial-dasar-coreldraw/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 13:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman2tarakan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman2tarakan.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Corel draw merupakan program computer graphic yang relative mudah pengoperasianya sehingga sering diremehkan banyak pemakai, padahal corel draw tidaklah sesederhana seperti yang dikira. Pada saat tutorial ini ditulis, versi terakhir dari corel draw adalah corel draw X3 (13). Tetapi tutorial ini masih menggunakan corel draw 11, tetapi hal itu tidak menjadi masalah, tutorial ini masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=36&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Corel draw merupakan program computer graphic yang relative mudah pengoperasianya sehingga sering diremehkan banyak pemakai, padahal corel draw tidaklah sesederhana seperti yang dikira. Pada saat tutorial ini ditulis, versi terakhir dari corel draw adalah corel draw X3 (13). Tetapi tutorial ini masih menggunakan corel draw 11, tetapi hal itu tidak menjadi masalah, tutorial ini masih bisa digunakan sebagai referensi tentang tool-tool dan fungsi-fungsi dasar dari corel draw.<span id="more-36"></span></p>
<p>Corel draw merupakan program computer graphic yang berbasis pada vector.  Corel draw sangat baik digunakan untuk membuat layout untuk media cetak, sampai menciptakan gambar vector yang super halus dan tajam.</p>
<p>Mengenal corel draw</p>
<p>Sebelum kita bercinta dengan corel draw, lebih baik kita berkenalan dulu dengan corel draw. Pada saat kita menjalankan corel draw pertama kali, secara default kita akan dihadapkan pada welcome screen. Screen ini bisa kita hilangkan dengan menon aktifkan pilihan “show this welcome screen at startup”, yang terletak di bagian kiri bawah welcome screen.</p>
<p>Dari screen ini kita bisa menutupnya atau memilih salah satu pilihan menu yang ada. Untuk saat ini kita pilih new graphics. Atau bisa juga kita menutupnya, terus dari menu file &gt; New (ctrl + N).  Setelah itu kita akan melihat tampilan lingkungan kerja di corel draw.</p>
<p>Lingkungan Kerja Corel Draw</p>
<p>A. Menu</p>
<p>Berisi berbagai perintah pengoperasian. Mulai dari membuka file, mengatur ukuran halaman, menampilkan berbagai macam docker dan sebagainya</p>
<p>B. Icon command / Toolbar</p>
<p>Bar ini berisi icon yang merupakan shortcut (perwakilan) pengoperasian berbagai perintah yang ada di menu. Seperti membuka, membuat file baru, menyimpan, print, dan sebagainya (yang biasanya sering digunakan)</p>
<p>1. New : membuat dokumen baru</p>
<p>2. Open : membuka file corel draw</p>
<p>3. Save : menyimpan dokumen</p>
<p>4. Print : mencetak</p>
<p>5. Cut : memotong objek ke clipboard</p>
<p>6. Copy : menyalin objek ke clipboard</p>
<p>7. Paste : menempelkan objek dari clipboard ke canvas</p>
<p>8. Undo : membatalkan perintah sebelumnya</p>
<p>9. Redo : mengulangi/mengembalikan perintah yang di undo</p>
<p>10. Import : import gambar</p>
<p>11. Export : Export gambar corel draw ke format lain</p>
<p>12. Zoom Levels : mengatur level pembesaran area kerja/canvas</p>
<p>13. Application launcher : memanggil aplikasi corel graphics suite yang lain  (jika diinstal)</p>
<p>14. Corel Online : Memanggil Corel Online</p>
<p>C. Detil seting tool yang digunakan</p>
<p>Isi dari bar adalah fitur pengoperasian yang dimiliki oleh suatu tool atau objek. Bar ini akan berubah-ubah sesuai dengan jenis tools yang kita pakai dan macam objek yang  sedang kita pilih.</p>
<p>D. ToolBoX</p>
<p>Berisi berbagai macam tool yang digunakan untuk membuat berbagai macam objek gambar dalam corel draw. Ada beberapa tool yang digabung (group), hal ini bisa dilihat dari tanda panah kecil dibagian kanan bawah dari tiap icon tool yang ada. Untuk menampilkan tool yang tersembunyi di suatu group, klik dan tahan hingga tool-tool yang tersembunyi tampil (muncul flyout).</p>
<p>1. Untuk memilih objek (pick tool).</p>
<p>2. Untuk mengakses shape, knife, eraser, smudge brush, roughen brush, free transform tools.</p>
<p>3. Untuk mengakses Zoom dan Pan (untuk menggeser).</p>
<p>4. Untuk mengakses freehand, Bezier, artistic media, pen, polyline, 3 point curve, interactive connector, dimension.</p>
<p>5. Untuk mengakses rectangle dan 3 point rectangle tools.</p>
<p>6. Untuk mengakses ellipse dan 3 point ellipse tools.</p>
<p>7. Untuk mengakses polygon, graph paper, spiral tools.</p>
<p>8. Untuk mengakses basic shapes, arrow shapes, flowchart shapes, star shapes, callout shapes</p>
<p>9. Text tool, untuk menulis di canvas.</p>
<p>10. untuk mengakses interactive blend, contour, distortion, envelope, extrude, drop shadow, transparency.</p>
<p>11. Untuk mengakses eyedropper (mengambil sampel warna) dan paint bucket tool (untuk meneteskan warna ke objek gambar.</p>
<p>12. Untuk mengakses tool yang terkait dengan outline (jenis outline, warna, ketebalan).</p>
<p>13. Untuk mengakses tool terkait dengan fill (warna, gradasi, pattern, texture, postscript.</p>
<p>14. Untuk mengakses interactive fill dan mesh tools</p>
<p>E. Ruler</p>
<p>Ruler berfungsi seperti layaknya penggaris, hanya saja dalam bentuk maya. Dari ruler ini kita bisa membuat suatu guide line, dengan cara klik &amp; drag ruler ke area kerja/canvas.</p>
<p>F. Canvas</p>
<p>Canvas ini merupakan area kerja kita, tempat kita berkreasi menciptakan berbagai macam objek gambar. Canvas ini berfungsi layaknya kertas gambar, hanya saja dalam bentuk maya.</p>
<p>G. Comand docker</p>
<p>Merupakan ekspansi dari beberapa fungsi-fungsi yang ada pada corel draw. Untuk menampilkan docker apa saja yang muncul, bisa dari menu Window &gt; dockers, trus pilih docker mana yang ingin ditampilkan atau disembunyikan. Docker ini juga bisa di minimize, atau di tutup</p>
<p>H. Color bar</p>
<p>Berisi pilihan warna yang bisa kita gunakan untuk mewarnai objek gambar yang kita buat. Baik warna isi maupun warna outline. Warna yang ada pada daftar color bar ini bisa kita customize sendiri.</p>
<p>I. Information box</p>
<p>Berisi keterangan warna isi dan outline (garis luar) objek gambar yang sedang kita pilih. Informasi ini bisa kita gunakan ketika sedang membutuhkan untuk mengetahui warna apa yang ada di suatu objek, model warna yang digunakan, palet warna apa yang digunakan.</p>
<p>J. Page control</p>
<p>Menampilkan control tampilan halaman pada sebuah dokumen, memberitahu ada di halaman mana kita sedang bekerja. Control ini memudahkan kita jika sedang bekerja pada sebuah dokumen yang terdiri dari beberapa halaman</p>
<p>K. Koordinat posisi kursor</p>
<p>Menunjukkan posisi kursor dalam perhitungan ukuran yang sama pada ruler</p>
<p>L. Canvas window control</p>
<p>Icon window yang digunakan untuk meminimize, membesarkan/mengecilkan, menutup window canvas. Memudahkan kita ketika bekerja dengan banyak dokumen.</p>
<p>menyebabkan eror atau mengurangi fasiltas.<br />
Pop-up Palette<br />
Menemukan warna sesuai dengan kebutuhan dan tepat guna hanya dengan satu kali klik.<br />
Klik dan tahan warna yang ada pada color palette on-screen untuk menampilkan gris warna<br />
warna yang mendekati.<br />
Palette Editor<br />
Dengan menggunakan fasilitas ini kita dapat membuat color palette atau mengedit custom<br />
paltte yang ada. Sekarang semua tool yang dibutuhkan untuk menambah, menghapus dan<br />
mengedit warna ditempatkan dalam satu kotak dialog.<br />
Color Harmonies<br />
Fasilitas ini dapat digunakan untuk memilih warna yang selaras antara warna yang satu<br />
dengan warna yang lain. Fasilitas pemilihan warna ini tersiri dari shapeberbeda yang<br />
berlapis diatas roda warna. Geserlah shape tersebut mengitari roda warna untuk<br />
menampilkan tiga atau empat kombinasi warna selaras yang berbeda.<br />
Color Management<br />
Kita dapat mensimulasikan output dari printer separasi warna pada printer campuran.<br />
Warna &#8211; warna FOCOLTONE, TOYO, dan DIC dapat dilakukan sebagai spot color. Dapat<br />
juga membuat spot color sendiri denganmenggunakan warna warna yang didefinisikan oleh<br />
user.<br />
Converting Bitmap<br />
Fasilitas yang lan adalah melakukan konversi bitmat ke mode warna lain dengan<br />
menggunakan perintah Convert To Paletted. dengan fasilitas palette yang ada dapat<br />
menentukan jumlah palette, range sensitifitas dan konversi serangkaian image dengan<br />
menggunakan batch setting.<br />
Cepat Mahir Corel Draw 11<br />
Warto Adi Nugraha</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sman2tarakan.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sman2tarakan.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman2tarakan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman2tarakan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman2tarakan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman2tarakan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman2tarakan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman2tarakan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman2tarakan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman2tarakan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman2tarakan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman2tarakan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman2tarakan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman2tarakan.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman2tarakan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman2tarakan.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=36&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/07/28/tutorial-dasar-coreldraw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/529753d2450987c473b7ed59a2e59d73?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sman2tarakan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PROFESI KEGURUAN</title>
		<link>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/07/14/profesi-keguruan/</link>
		<comments>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/07/14/profesi-keguruan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 01:50:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman2tarakan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman2tarakan.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[&#62;PROFESI KEGURUAN PENDAHULUAN Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Pendidikan adalah suatu bentuk investasi jangka panjang yang penting bagi seorang manusia. Pendidikan yang berhasil akan menciptakan manusia yang pantas dan berkelayakan di masyarakat seta tidak menyusahkan orang lain. Masyarakat dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju mengakui bahwa pendidik / guru merupakan satu diantara sekian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=31&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&gt;PROFESI KEGURUAN</p>
<p>PENDAHULUAN</p>
<p>Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Pendidikan adalah suatu bentuk investasi jangka panjang yang penting bagi seorang manusia. Pendidikan yang berhasil akan menciptakan manusia yang pantas dan berkelayakan di masyarakat seta tidak menyusahkan orang lain. Masyarakat dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju mengakui bahwa pendidik / guru merupakan satu diantara sekian banyak unsure pembentuk utama calon anggota masyarakat. Namun, wujud pengakuan itu berbeda-beda antara satu masyarakat dan masyarakat yang lain. Sebagian mengakui pentingnya peranan guru itu dengan cara yang lebih konkrit, sementara yang lain masih menyangsikan besarnya tanggung jawab seorang guru, termasuk masyarakat yang sering menggaji guru lebih rendah daripada yang sepantasnya.<span id="more-31"></span></p>
<p>Demikian pula, sebagian orang tua kadang-kadang merasa cemas ketika menyaksikan anak-anak mereka berangkat ke sekolah, karena masih ragu akan kemampuan guru mereka. Di pihak lain setelah beberapa bulan pertama mengajar, guru-guru pada umumnya sudah menyadari betapa besar pengaruh terpendam yang mereka miliki terhadap pembinaan kepribadian peserta didik. Kesadaran umum akan besarnya tanggung jawab seorang guru serta berbagai pandangan masyarakat terhadap peranannya telah mendorong para tokoh dan ahli pendidikan untuk merumuskan ruang lingkup tugas, tanggung jawab dan kualifikasi yang seharusnya dipenuhi oleh guru, sebagai pengajar guru mempunya tugas menyelenggarakan proses belajar-mengajar tugas yang mengisi porsi terbesar dari profesi keguruan ini pada garis besarnya meliputi minimal empat pokok, yaitu :</p>
<p>menguasai bahan pengajaran</p>
<p>merencanakan program belajar-mengajar</p>
<p>melaksanakan, memimpin dan mengelola proses belajar-mengajar serta,</p>
<p>menilai dan mengevaluasi kegiatan belajar-mengajar</p>
<p>Kemudian aspek-aspek apa saja yang dapat mendorong seorang guru dapat mengembangkan proses belajar mengajar? Apa indikatornya? Serta kompensasi macam apa yang dijalankan guna tercapainya proses belajar mengajar dalam upaya mengembangkan profesionalismenya?</p>
<p>LANDASAN</p>
<p>Profesi Keguruan, Kata Profesi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan, dsb) tertentu. Di dalam profesi dituntut adanya keahlian dan etika khusus serta standar layanan. Pengertian ini mengandung implikasi bahwa profesi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang secara khusus di persiapkan untuk itu. Dengan kata lainprofesi bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak memperoleh pekerjaan lain.</p>
<p>Suatu profesi memerlukan kompetensi khusus yaitu kemampuan dasar berupa ketrampilan menjalankan rutinitas sesuai dengan petunjuk, aturan, dan prosedur teknis. Guru memerlukan kompetensi khusus yang berkenaan dengan tugasnya. Hal itu karena pendidikan tidak terjadi secara alami, tetapi dengan disengaja (disadari). Hubungan yang sederhana dan akal sehat saja belum cukup untuk melaksanakan pengajaran yang baik. Kompetensi guru tentu saja sinkron dengan bidang tugasnya, yaitu pengajaran, bimbingan dan administrasi. Ada anggapan bahwa untuk menjadi guru tidak perlu mempelajari metode mengajar, karena kegiatan mengajar bersifat praktis dan alami, siapapun dapat mengajar asalkan memiliki pengetahuan tentang apa yang akan diajarkan. Dari pengalamannya, orang kelak akan dapat meningkatkan kualitas pengajarannya. Memang ada orang yang kebetulan dapat mengajar dengan baik tanpa mempelajari metode mengajar, tetapi ada pula yang juga kebetulan tidak dapat mengajar dengan baik karena tidak memperlajarinya. Pada dasarnya, guru-guru “kebetulan” itu bersandar kepada pengalaman pribadinya di dalam mengajar. Pada dasrnya pula, metodologi pengajaran merupakan hasil pengkajian dan pengujian terhadap pengalaman yang tidak lagi kebetulan, tetapi pengalaman yang mempunyai kebenaran berdasarkan metode ilmiah. Dengan demikian, metodologi pengajaran jauh lebih memberikan kemudahan kepada guru dalam menjalankan tugas mengajar. Di samping itu, ilmu pengetahuan dan orientsai pendidikan di zaman sekarang mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini menuntut guru untuk memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan orientasi pendidikan yang baru serta metode-metode mengajar yang sesuai dengan perkembangan baru tersebut. Keberadaan metodologi pengajaran menunjukkan pentingnya kedudukan metode dalam system pengajaran. Tujuan dan isi pengajaran yang baik tanpa didukung metode penyampaian yang baik dapat melahirkan hasil yang tidak baik. Atas dasar itu, pendidikan penaruh perhatian yang besar terhadap masalah metode.</p>
<p>PROSES PERKEMBANGAN DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR</p>
<p>Para ahli mengumakakan definisi belajar yang berbeda-beda, namun tampaknya ada semacam kesepakatan di antara mereka yang menyatakan bahwa perbuatan belajar mengandung perubahan dalam diri seseorang yang telah melakukan perbuatan belajar. Perubahan itu bersifat intensional berarti perubahan itu terjadi karena pengalaman atau praktik yang dilakukan pelajar dengan sengaja dn disadari bukan kebetulan. Sifat positif berarti perubahan itu bermanfaat sesuai dengan harapan pelajar. Sifat aktif berarti perubahan itu terjadi karena usaha yang dilakukan pelajar, bukan terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan. Sifat efektif berarti perubahan itu memberikan pengaruh dan manfaat bagi pelajar. Adapun sifat fungsional berarti perubahan itu relative ttap serta dapat diproduksi atau dimanfaatkan setiap kali dibutuhkan.</p>
<p>Perubahan dalam belajar bisa berbentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, pengetahuan atau apresiasi (penghargaan) perubahan tersebut bisa meliputi keadaan dirinya, pengetahuannya, atau perbuatannya. Artinya; Orang yang sudah melakukan perbuatan belajar bisa merasa lebih bahagia, lebih pandai menjaga kesehatan, memanfaatkan alam sekitar, meningkatkan pengabdian untuk kepentingan umum, dapat berbicara lebih baik dapat memainkan suatu alat musik atau melakukan suatu perbedaan, perubahan tersebut juga bisa bersifat pengadaan penambahan ataupun perluasan, pendek kata, di dalam diri seorang pelajar terdapat perbedaan keadaan antara sebelum dan sesudah melakukan kegiatan belajar.</p>
<p>Pengertian di atas memberi petunjuk bahwa keberhasilan belajar dapat diukur berdasarkan perbedaan cara berpikir merasa dan berbuat sebelum dan sesudah memperoleh pengalaman belajar dalam menghadapi situasi yang serupa. Umpamanya sebelum belajar pelajar belum dapat berwudlu, kemudian terjadi proses belajar mengajar, guru memberitahukan kepada pelajar syarat, rukun, bacaan dan tata cara berwudlu lalu pelajar mempraktikannya dan berlatih sampai akhirnya pelajar mampu berwudlu. Contoh lain pelajar diminta guru untuk berenang dari satu tepi kolam ke tepi yang lain, pelajar yang belum mengenal sama sekali situasi kolam renang langsung terjun dan hampir tenggelam. Guru yang memang sudah mengantisipasi bahwa hal itu akan terjadi segera membantunya dan mengajarinya cara berenang. Setelah belajar ia akhirnya dapat berenang, dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan pada cara pendekatan pelajar yang bersangkutan dalam menghadapi tugas-tugas selanjutnya merupakan bukti bahwa kegiatan belajar telah berhasil.</p>
<p>Bagaimana manusia belajar atau bagaimana belajar terjadi? Apa tanda-tanda bahwa ia telah belajar atau apa saja manifestasi belajar itu? Persoalan pertama berkaitan dengan perbuatan belajar, sedangkan persoalan kedua mengenai hasil belajar. Dengan mengetahui dua persoalan tersebut guru diharapkan dapat menentukan strategi dan langkah-langkah taktis pengajaran karena pengajaran adalah membuat pelajar belajar. Istilah “pelajar” dipilih ketimbang “pelajar” untuk menekankan pengertian tersebut.</p>
<p>Ada kecenderungan di masa sekarang untuk melupakan bahwa hakikt pendidikan adalah belajarnya pelajar, bukan mengajarnya guru, guru mendapat posisi yang istimewa dalam proses pendidikan sementara keinginana dan kemampuan pelajar secara mandiri untuk menciptakan, menemukan dan belajar untuk dirinya sendiri diabaikan. Hal itu telah merendahkan peranan pelajar dalam proses pendidikan, padahal belajar, sebagaimana ditekankan oleh John Dewey, menyangkut apa yang harus dikerjakan oleh pelajar untuk dirinya sendiri.</p>
<p>Oleh sebab itu, inisiatif belajar harus dating dari pelajar sendiri, guru hendaknya memposisikan diri sebagai pembimbing dan pengarah yang mengemudikan perahu, sedangkan tenaga untuk menggerakkan perahu tersebut berasal dari pelajar. Guru harus mendorong pelajar untuk belajar mandiri dengan dan bagi diri mereka sendiri, dengan kata lain, guru harus menjamin bahwa pelajar mampu menerima tanggung jawab untuk belajar dengan mengembangkan sikap dan antusiasnya. Dipandang dari pengertian di atas, barangkali tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sebenarnya tidak ada “tujuan pengajaran” yang ada hanyalah tujuan belajar dilihat dari posisi guru sebagai pendorong kegiatan belajar maka tujuan trsebut “tujuan pembelajaran”.</p>
<p>Untuk mencapai interaksi belajar mengajar dibutuhkan komunikasi anatra guru dan peserta didik yang memadukan dua kegiatan. Yaitu kegiatan mengajar (usaha guru) dan kegiatan belajar (tugas peserta didik). Guru perlu mengembangkan pola komunikasi yang efektif dalam proses belajar mengajar, karena seringkali kegagalan pengajaran disebabkan oleh lemahnya system komunikasi. Tujuan yang telah dirumuskan dengan jelas sangat membantu guru dalam membuat perencanaan, demikian halnya dengan prinsip-prinsip psikologi. Dalam perencanaan program pengajaran, banyaknya pengalaman guru dalam memilih prosedur pengajaran akan sangat membantunya dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkan.</p>
<p>Sistem pengajaran di sekolah sekarang ini mengelompokkan tujuan pendidikan yang hendak dicapai ke dalam tiga bidang, yaitu :</p>
<p>segi kognitif yang meliputi pengetahuan, pemahaman, penerapan (aplikasi), analisis, sintesis dan evaluasi.</p>
<p>Segi efektif yang meliputi memperhatikan, merespon, menghayati dan menginternalisasi nilai.</p>
<p>Segi psikomotorik yang meliputi persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa dan gerakan (respons) kompleks.</p>
<p>PENUTUP / KESIMPULAN</p>
<p>Aspek-aspek yang berhubungan dengan kediatan belajar mengajar jika diidentifikasi melalui cirri-ciri kegiatan yang disebut belajar adalah suatu aktivitas yang menghasilakn perubahan pada diri individu yang belajar baik actual maupun potensial, perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relative lama dan yang jelas perubahan itu terjadi karena proses dan usaha.</p>
<p>Kondisi fisiologis juga sangat berpengaruh terhdap belajar seseorang, orang yang sehat jasmaninya akan lain belajarnya dari orang yang kurang sehat. Dan yang tidak kalah penting adalah kondisi panca indera terutama penglihatan dan pendengaran.</p>
<p>Semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja berpengaruh terhadap proses belajar, beberapa factor psikologis yang utama meliputi, minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif. Msseski diakui tujuan pendidikan itu meliputi 3 aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor namun yang terutama adalah aspek kognitif, dan bahkan aspek kognitif sajalah yang perlu dikembangkan.</p>
<p>REFERENSI</p>
<p>Syah, Muhibin. 2003. Psikologi Belajar, Jakarta PT Raja Grafindo Persada.</p>
<p>Winkel, WS. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta Gramedia Widiasarana Indonesia.</p>
<p>Purwanto, M. Ngalim. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung PT Remaja Rosdikarya.</p>
<p>DR. H. A. Qodri A. Azizy, MA. 2002. Psikologi Pendidikan Agama. Departemen Agama RI.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sman2tarakan.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sman2tarakan.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman2tarakan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman2tarakan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman2tarakan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman2tarakan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman2tarakan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman2tarakan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman2tarakan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman2tarakan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman2tarakan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman2tarakan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman2tarakan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman2tarakan.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman2tarakan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman2tarakan.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=31&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/07/14/profesi-keguruan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/529753d2450987c473b7ed59a2e59d73?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sman2tarakan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panduan Pengembangan Materi Pembelajaran</title>
		<link>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/06/17/ada-apa-dengan-bbm/</link>
		<comments>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/06/17/ada-apa-dengan-bbm/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 11:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman2tarakan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman2tarakan.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai konsekuensi atas terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional, telah menerbitkan berbagai peraturan agar penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=9&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">BAB I<br />
PENDAHULUAN</p>
<p>A.   Latar Belakang</p>
<p>Sebagai konsekuensi atas terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional, telah menerbitkan berbagai peraturan agar penyelenggaraan pendidikan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat memenuhi acuan atau standar tertentu. Berbagai standar tersebut adalah: (1) standar isi, (2) standar kompetensi lulusan, (3) standar proses, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan.<span id="more-9"></span></p>
<p>Dalam pencapaian standar isi (SI) yang memuat standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dicapai oleh peserta didik setelah melalui pembelajaran dalam jenjang dan waktu tertentu, sehingga pada gilirannya mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) setelah menyelesaikan pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu secara tuntas. Agar peserta didik dapat mencapai SK, KD, maupun SKL yang diharapkan, perlu didukung oleh berbagai standar lainnya, antara lain standar proses dan standar pendidik dan tenaga kependidikan.</p>
<p>Untuk membantu peserta didik mencapai berbagai kompetensi yang diharapkan, pelaksanaan atau proses pembelajaran perlu diusahakan agar interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Analisis terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar juga merupakan bagian sangat penting dalam mendukung keseluruhan komponen dari materi pembelajaran tersebut.<!--more--></p>
<p>Penjabaran SK dan KD sebagai bagian dari pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dilakukan melalui pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus merupakan penjabaran secara umum dengan mengembangkan SK-KD menjadi indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar dan penilaian. Sebagai bagian dari langkah pengembangan silabus, pengembangan indikator merupakan langkah strategis yang berpengaruh pada kualitas pembelajaran di kelas. Kemampuan guru dan sekolah dalam mengembangkan indikator berpengaruh pada kualitas kompetensi peserta didik di sekolah tersebut.</p>
<p>Dalam PP nomor 19 tahun 2005 Pasal 20, diisyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran, yang kemudian dipertegas malalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, yang antara lain mengatur tentang perencanaan proses pembelajaran yang mensyaratkan bagi pendidik pada satuan pendidikan untuk mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Salah satu elemen dalam RPP adalah sumber belajar. Dengan demikian, guru diharapkan untuk mengembangkan materi pembelajaran sebagai salah satu  sumber belajar dan acuan pembelajaran.</p>
<p>Selain itu, pada lampiran Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, juga diatur tentang berbagai kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik, baik yang bersifat kompetensi inti maupun kompetensi mata pelajaran. Bagi guru pada satuan pendidikan jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), baik dalam tuntutan kompetensi pedagogik maupun kompetensi profesional, berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam mengembangkan sumber belajar dan materi pembelajaran.</p>
<p>Oleh karena itu, disamping sebagai implementasi dari Permendiknas nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Ditjen Mandikdasmen bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran &#8211; Dit. PSMA (yang antara lain disebutkan bahwa melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum) dipandang perlu menyusun panduan bagi guru SMA sehingga dapat dijadikan salah satu referensi dalam pengembangan materi pembelajaran.</p>
<p>B.  Tujuan<br />
Penyusunan panduan ini bertujuan :<br />
1.	memberikan pemahaman lebih luas untuk mengembangkan materi pembelajaran.<br />
2.	memberikan gambaran strategi implementasi pengembangan materi pembelajaran.<br />
3.	mendorong peningkatan mutu pembelajaran melalui proses pengembangan materi pembelajaran yang efektif.</p>
<p>C.   Ruang Lingkup</p>
<p>Ruang lingkup panduan ini meliputi konsep dan prinsip pemilihan materi pembelajaran, penentuan cakupan, urutan, kriteria dan langkah-langkah pemilihan, perlakuan/pemanfaatan,  serta sumber materi pembelajaran.</p>
<p>BAB II<br />
MATERI PEMBELAJARAN</p>
<p>A.	Pengertian Materi Pembelajaran</p>
<p>Keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan sangat tergantung pada keberhasilan guru merancang materi pembelajaran.  Materi Pembelajaran pada hakekatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran.</p>
<p>Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa Materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.</p>
<p>Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran tersebut harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta tercapainya indikator .</p>
<p>Materi pembelajaran dipilih seoptimal mungkin untuk membantu peserta didik dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal-hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pemilihan materi pembelajaran adalah jenis, cakupan, urutan, dan perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran tersebut.</p>
<p>Agar guru dapat membuat persiapan yang berdaya guna dan berhasil guna, dituntut memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan materi pembelajaran, baik berkaitan dengan hakikat, fungsi, prinsip, maupun prosedur pengembangan materi serta mengukur efektivitas persiapan tersebut.</p>
<p>B.	Jenis-Jenis Materi Pembelajaran<br />
Jenis-jenis materi pembelajaran dapat diklasifikasi sebagai berikut.<br />
1.	Fakta yaitu segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama bagian atau komponen suatu benda, dan sebagainya. Contoh dalam mata pelajaran Sejarah: Peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 dan pembentukan Pemerintahan Indonesia.</p>
<p>2.	Konsep yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti /isi  dan sebagainya. Contoh, dalam mata pelajaran Biologi: Hutan hujan tropis di Indonesia sebagai sumber plasma nutfah, Usaha-usaha pelestarian keanekargaman hayati Indonesia secara in-situ dan ex-situ, dsb.</p>
<p>3.	Prinsip yaitu berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antarkonsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat. Contoh, dalam mata pelajaran Fisika: Hukum Newton tentang gerak, Hukum 1 Newton, Hukum 2 Newton, Hukum 3 Newton, Gesekan Statis dan Gesekan Kinetis, dsb.</p>
<p>4.	Prosedur merupakan langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. Contoh, dalam mata pelajaran TIK: Langkah-langkah mengakses internet, trik dan strategi penggunaan Web Browser dan Search Engine, dsb.</p>
<p>5.	Sikap atau Nilai merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya  nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar dan bekerja, dsb. Contoh, dalam mata pelajaran Geografi:  Pemanfaatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, yaitu pengertian lingkungan, komponen ekosistem, lingkungan hidup sebagai sumberdaya, pembangunan berkelanjutan.</p>
<p>BAB III<br />
PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN<br />
MATERI PEMBELAJARAN</p>
<p>A.	Prinsip-Prinsip Pengembangan Materi</p>
<p>Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy).</p>
<p>1.	Relevansi artinya kesesuaian. Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lain.  Misalnya : kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah ”Menjelaskan hukum permintaan dan hukum penawaran serta asumsi yang mendasarinya”  (Ekonomi kelas X semester 1) maka pemilihan materi pembelajaran yang disampaikan seharusnya ”Referensi tentang hukum permintaan dan penawaran” (materi konsep), bukan  Menggambar kurva permintaan dan penawaran dari satu daftar transaksi (materi prosedur).<br />
2.	Konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah Operasi Aljabar bilangan bentuk akar (Matematika Kelas X semester 1) yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan merasionalkan pecahan bentuk akar.<br />
3.	Adequacy artinya kecukupan. Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD).</p>
<p>Adapun dalam pengembangan materi pembelajaran guru harus mampu mengidentifikasi Materi Pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:<br />
1.	potensi peserta didik;<br />
2.	relevansi dengan karakteristik daerah;<br />
3.	tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;<br />
4.	kebermanfaatan bagi peserta didik;<br />
5.	struktur keilmuan;<br />
6.	aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;<br />
7.	relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan<br />
8.	alokasi waktu.</p>
<p>B.	Penentuan Cakupan dan Urutan Materi Pembelajaran<br />
1.	Penentuan cakupan materi pembelajaran<br />
Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus memperhatikan apakah materinya berupa aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, prosedur) aspek afektif, ataukah aspek psikomotor,  karena ketika sudah diimplementasikan dalam proses pembelajaran maka tiap-tiap jenis uraian materi tersebut memerlukan strategi dan media pembelajaran yang berbeda-beda.</p>
<p>Selain memperhatikan jenis materi juga harus memperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman materinya.<br />
Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan seberapa banyak materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran.<br />
Kedalaman materi menyangkut rincian konsep-konsep yang terkandung di dalamnya yang harus dipelajari oleh peserta didik.</p>
<p>Sebagai contoh, proses fotosintesis dapat diajarkan di SD, SMP dan SMA, juga di perguruan tinggi, namun keluasan dan kedalaman pada setiap jenjang pendidikan tersebut akan berbeda-beda. Semakin tinggi jenjang pendidikan akan semakin luas cakupan aspek proses fotosintesis yang dipelajari dan semakin detail pula setiap aspek yang dipelajari. Di SD dan SMP aspek kimia disinggung sedikit tanpa menunjukkan reaksi kimianya. Di SMA reaksi-reaksi kimia mulai dipelajari dan di perguruan tinggi reaksi kimia dari proses fotosintesis semakin diperdalam.</p>
<p>Kecukupan atau memadainya cakupan materi juga perlu diperhatikan. Memadainya cakupan aspek materi dari suatu materi pembelajaran akan sangat membantu tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Misalnya, jika dalam pembelajaran dimaksudkan untuk memberikan kemampuan kepada peserta didik di bidang jual beli, maka uraian materinya mencakup:<br />
a.	penguasaan atas konsep pembelian, penjualan, laba, dan rugi;<br />
b.	rumus menghitung laba dan rugi jika diketahui pembelian dan penjualan;<br />
c.	penerapan/aplikasi rumus menghitung  laba dan rugi.</p>
<p>Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang akan diajarkan terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai sehingga terjadi kesesuaian dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.</p>
<p>Misalnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI, salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai peserta didik adalah &#8221; Menulis surat dagang dan surat kuasa&#8221;. Setelah diidentifikasi, ternyata materi pembelajaran untuk mencapai kemampuan tersebut termasuk jenis prosedur. Jika kita analisis, secara garis besar cakupan materi yang harus dipelajari peserta didik agar mampu membuat Surat Dagang sekurang-kurangnya meliputi: (1) jenis surat  niaga, (2) jenis perjanjian jual beli dan surat kuasa,  (3) menulis surat perjanjian  jual –  beli dan surat kuasa sesuai dengan  keperluan , (4)  surat perjanjian jual – beli  dan surat berdasarkan struktur kalimat dan EYD.</p>
<p>2.	Urutan  Materi  Pembelajaran<br />
Urutan penyajian berguna untuk menentukan urutan proses pembelajaran. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi  pembelajaran  mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan peserta didik dalam mempelajarinya. Misalnya,  materi operasi bilangan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Peserta didik akan mengalami kesulitan mempelajari pengurangan jika materi penjumlahan belum dipelajari. Peserta didik akan mengalami kesulitan melakukan pembagian jika materi perkalian belum dipelajari.</p>
<p>Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu: pendekatan prosedural dan hierarkis.</p>
<p>a.	Pendekatan prosedural.<br />
Urutan materi pembelajaran secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah: dalam menelpon, dalam mengoperasikan peralatan  kamera video, cara menginstalasi program computer, dan sebagainya.<br />
Contoh : Urutan Prosedural  (tatacara)<br />
Pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), peserta didik harus mencapai kompetensi dasar ”Melakukan setting peripheral pada operating system (OS) komputer”.  Agar peserta didik berhasil mencapainya, harus melakukan langkah-langkah berurutan mulai dari cara membaca gambar periferal sampai dengan mengetes keberhasilannya. Prosedur instalasi tersebut dapat disajikan dalam materi pembelajaran sebagaimana dalam tabel di bawah ini :</p>
<p>Tabel 1: Contoh Urutan Materi pembelajaran Secara Prosedural<br />
Materi Pembelajaran	Urutan Materi<br />
Melakukan setting peripheral pada operating system (OS) komputer	•	Mengidentifikasi informasi tentang jenis dan fungsi tiap-tiap peripheral<br />
•	Jenis dan fungsi tiap-tiap peripheral<br />
•	Petunjuk pengoperasian peripheral<br />
•	Fungsi driver<br />
•	Instalasi driver peripheral<br />
•	Mempraktikkan setting peripheral<br />
(Kecakapan hidup: Identifikasi variabel, menghubungkan variabel, merumuskan, hipotesis, mengambil keputusan)</p>
<p>b.	Pendekatan hierarkis<br />
Urutan materi pembelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.<br />
Contoh : Urutan Hierarkis  (berjenjang)<br />
Soal cerita tentang Perhitungan Laba Rugi dalam Jual Beli<br />
Agar peserta didik mampu menghitung laba atau rugi dalam jual beli (penerapan rumus/dalil), peserta didik terlebih dahulu harus mempelajari konsep/pengertian laba, rugi, penjualan, pembelian, modal dasar (penguasaan konsep). Setelah itu peserta didik perlu mempelajari rumus/dalil menghitung laba dan rugi (penguasaan dalil). Selanjutnya peserta didik menerapkan dalil atau prinsip jual beli (penguasaan penerapan dalil). Bila disajikan dalam bentuk tabel  sebagai berikut.</p>
<p>Tabel 2: Contoh Urutan Materi pembelajaran secara hierarkis<br />
Materi pembelajaran	Urutan Materi<br />
1.	Menghitung laba atau rugi dalam jual beli  	1.1.	Konsep/pengertian laba, rugi,  penjualan, pembelian, modal dasar<br />
1.2.	Rumus/dalil menghitung laba, dan rugi<br />
1.3.	Penerapkan dalil atau prinsip jual beli</p>
<p>C.	Penentuan Sumber Belajar<br />
Berbagai sumber belajar dapat digunakan untuk mendukung  materi pembelajaran  tertentu. Penentuan tersebut harus tetap mengacu pada setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.<br />
Beberapa jenis sumber belajar antara lain:<br />
1.	buku<br />
2.	laporan hasil penelitian<br />
3.	jurnal (penerbitan hasil penelitian  dan pemikiran ilmiah)<br />
4.	majalah ilmiah<br />
5.	kajian pakar bidang studi<br />
6.	karya profesional<br />
7.	buku kurikulum<br />
8.	terbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan<br />
9.	situs-situs Internet<br />
10.	multimedia (TV, Video, VCD, kaset audio, dsb)<br />
11.	lingkungan (alam, sosial, seni budaya, teknik, industri, ekonomi)<br />
12.	narasumber</p>
<p>Perlu diingat bahwa tidaklah tepat jika seorang guru hanya bergantung pada satu jenis sumber sebagai satu-satunya sumber belajar. Sumber Belajar adalah rujukan, artinya dari berbagai sumber belajar tersebut seorang guru harus melakukan analisis dan mengumpulkan materi yang sesuai untuk dikembangkan dalam bentuk bahan ajar. Di samping itu, kegiatan pembelajaran  bukanlah usaha mengkhatamkan (menyelesaikan) keseluruhan isi suatu buku, tetapi membantu peserta didik mencapai kompetensi. Karena itu, hendaknya guru menggunakan sumber belajar maupun Bahan Ajar secara bervariasi, untuk pengembangan bahan ajar dapat berpedoman dengan panduan pengembangan bahan ajar yang diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan SMA.</p>
<p>BAB IV<br />
STRATEGI IMPLEMENTASI<br />
MATERI PEMBELAJARAN</p>
<p>A.	Langkah-Langkah Penentuan Materi Pembelajaran<br />
1.	Identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar<br />
Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu di identifikasi aspek-aspek keutuhan kompetensi yang harus dipelajari atau dikuasai peserta didik. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap  standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran. Harus ditentukan apakah standar kompetensi  dan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik termasuk ranah kognitif, psikomotor ataukah afektif.<br />
	Ranah Kognitif jika kompetensi yang ditetapkan meliputi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,  dan penilaian.<br />
	Ranah Psikomotor jika kompetensi yang ditetapkan meliputi gerak awal, semirutin, dan rutin.<br />
	Ranah Afektif jika kompetensi yang ditetapkan meliputi pemberian respons, apresiasi, penilaian, dan internalisasi.</p>
<p>2.	Identifikasi Jenis-jenis Materi Pembelajaran<br />
Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi pembelajaran  dengan tingkatan aktivitas /ranah  pembelajarannya. Materi  yang sesuai untuk ranah kognitif ditentukan berdasarkan perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Dengan demikian, jenis materi yang sesuai untuk ranah kognitif adalah fakta, konsep, prinsip dan prosedur.</p>
<p>Materi pembelajaran yang sesuai untuk ranah afektif ditentukan berdasarkan perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Dengan demikian, jenis materi yang sesuai untuk ranah afektif meliputi rasa dan penghayatan, seperti pemberian respon, penerimaan, internalisasi, dan penilaian.</p>
<p>Materi pembelajaran yang sesuai untuk ranah psikomotor ditentukan berdasarkan perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik. Dengan demikian, jenis materi yang sesuai untuk ranah psikomotor terdiri dari gerakan awal, semirutin, dan rutin. Misalnya tulisan tangan, mengetik, berenang, mengoperasikan komputer, mengoperasikan mesin dan sebagainya.</p>
<p>Materi yang akan dibelajarkan  perlu diidentifikasi  secara tepat agar pencapaian kompetensinya dapat diukur. Di samping itu, dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan dibelajarkan, maka guru akan mendapatkan ketepatan dalam metode pembelajarannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi, metode, media, dan sistem evaluasi yang berbeda-beda. Misalnya metode pembelajaran materi fakta atau hafalan bisa menggunakan “jembatan keledai”, “jembatan ingatan” (mnemonics), sedangkan metode pembelajaran materi prosedur dengan cara  “demonstrasi”.</p>
<p>Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan dibelajarkan adalah dengan cara mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik.  Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita belajarkan berupa  fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap, atau keterampilan motorik.</p>
<p>Berikut adalah pertanyaan penuntun untuk mengidentifikasi jenis materi pembelajaran.<br />
a.	Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa mengingat nama suatu objek, simbol atau suatu peristiwa? Kalau jawabannya “ya” maka materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah “fakta”. Contoh: Nama dan lambang zat kimia, nama-nama organ tubuh manusia.<br />
b.	Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa kemampuan untuk menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai dengan suatu definisi? Kalau  jawabannya “ya” berarti materi yang harus diajarkan adalah “konsep”. Contoh : Seorang guru Biologi menunjukkan beberapa tumbuh-tumbuhan kemudian peserta didik diminta untuk menglasifikasikan atau mengelompokkan mana yang termasuk tumbuhan berakar serabut dan mana yang berakar tunggang.<br />
c.	Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa menjelaskan atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut atau membuat sesuatu? Bila “ya” maka materi yang harus diajarkan  adalah “prosedur”. Contoh :<br />
•	Seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan membelajarkan bagaimana proses penyusunan langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan dalam mewujudkan persamaan Hak Asasi Manusia.<br />
•	Seorang guru Fisika menjelaskan tentang bagaimana membuat magnet buatan. Seorang guru Kimia mengajarkan bagaimana membuat sabun mandi.<br />
d.	Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa menentukan hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan hubungan antara berbagai macam konsep? Bila jawabannya “ya”, berarti materi pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam kategori “prinsip”. Contoh :</p>
<p>•	Seorang guru Matematika menjelaskan cara  menghitung luas segitiga menggunakan aturan Trigonometri. Rumus luas segitiga adalah setengah dari perkalian dua sisi berdekatan kali sinus sudut yang diapit .<br />
•	Seorang guru Ekonomi menjelaskan hubungan antara penawaran dan permintaan suatu barang dalam lalu lintas ekonomi. Jika permintaan naik sedangkan penawaran tetap, maka harga akan naik.<br />
e.	Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa memilih berbuat atau tidak berbuat berdasar pertimbangan baik buruk, suka tidak suka, indah tidak indah? Jika jawabannya “Ya”, maka materi pembelajaran yang harus diajarkan berupa aspek sikap atau nilai. Contoh: Budi memilih tidak menaati rambu-rambu lalulintas daripada terlambat ke sekolah walau telah dibelajarkan pentingnya menaati peraturan lalu lintas.<br />
f.	Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa melakukan perbuatan secara fisik? Jika jawabannya “Ya”, maka materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah aspek motorik. Contoh: Dalam pelajaran lompat tinggi, peserta didik diharapkan mampu melompati mistar setinggi 125 centimeter. Materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah teknik lompat tinggi.</p>
<p>Agar menjadi lebih jelas dalam mengidentifikasi materi pembelajaran apakah termasuk aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, dan prosedur), aspek afektif dan aspek psikomotorik, berikut disajikan bagan alur (flowchart) langkah-langkah penentuan materi pembelajaran. Selain menggambarkan langkah-langkah yang menunjukkan cara berpikir, diagram di bawah ini juga menunjukkan kata-kata kunci untuk menentukan jenis atau tipe materi pembelajaran dalam hubungannya dengan perumusan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik.</p>
<p>Diagram  1. Proses Pemilihan Materi Pembelajaran</p>
<p>B.	Strategi Urutan Penyampaian<br />
1.	Strategi urutan penyampaian simultan<br />
Jika guru harus menyampaikan lebih dari satu materi pembelajaran, maka menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara keseluruhan disajikan secara serentak, kemudian diperdalam satu demi satu (metode global). Misalnya, seorang guru mata pelajaran Kimia akan menyampaikan materi tentang Ikatan Kimia yang terdiri dari beberapa macam ikatan, Kestabilan Unsur, Struktur Lewis, Ikatan Ion dan Ikatan Kovalen, Senyawa Kovalen Polar dan Non-Polar, Ikatan Logam. Pertama-tama Guru menyajikan gambaran umum sekaligus secara garis besar, kemudian setiap jenis ikatan disajikan secara mendalam.</p>
<p>2.	Strategi urutan penyampaian suksesif<br />
Jika guru harus menyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi berikutnya secara mendalam pula. Contoh yang sama, seorang guru mata pelajaran Kimia akan menyampaikan materi tentang Ikatan Kimia yang terdiri dari beberapa macam Ikatan, Kestabilan Unsur, Struktur Lewis, Ikatan Ion dan Ikatan Kovalen, Senyawa Kovalen Polar dan Non-Polar, Ikatan Logam. Setelah jenis ikatan pertama disajikan secara mendalam, baru kemudian menyajikan jenis berikutnya yaitu Ikatan Ion, Ikatan Kovalen dan seterusnya.</p>
<p>C.	Strategi  Penyampaian  Jenis-Jenis Materi<br />
Secara garis besar, langkah-langkah menyampaikan materi pembelajaran  sangat bergantung kepada jenis materi yang akan disajikan. Langkah-langkah dan strategi yang dijabarkan dalam panduan ini adalah masih dalam taraf minimal. Pengembangannya, diserahkan pada kreativitas guru, sepanjang tidak menyalahi kaidah-kaidah yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya.</p>
<p>1.	Strategi Penyampaian Fakta<br />
Jika guru harus manyajikan materi pembelajaran jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb.).</p>
<p>Langkah-langkah membelajarkan materi pembelajaran jenis “Fakta”:<br />
(a)	Sajikan fakta<br />
(b)	Berikan bantuan untuk materi yang harus dihafal<br />
(c)	Berikan soal-soal mengingat kembali (review)<br />
(d)	Berikan umpan balik<br />
(e)	Berikan tes.</p>
<p>Contoh :<br />
Strategi penyampaian materi Fisika Kelas X tentang Indeks Bias Cahaya.</p>
<p>Langkah 1 : Penyajian Fakta<br />
Sajikan materi tentang indeks bias medium, yaitu untuk intan dan kaca. Jika suatu medium mempunyai susunan molekul yang rapat maka akan mempunyai indeks bias yang besar, dan sebaliknya.  Gunakan lisan, lisan dan gambar atau slide presentasi.</p>
<p>Langkah 2 : Memberi Bantuan<br />
Bantuan menghafal perbedaan indeks bias antara intan dan kaca. Untuk membantu menghafalnya, dapat menggunakan pasangan asosiasi KACA dengan KECIL (fokus pada huruf K dan C), sedangkan untuk INTAN diambil nilai kebalikannya, yaitu BESAR. Dengan demikian, intan mempunyai indeks bias lebih besar dibanding kaca.</p>
<p>Langkah 3 : Soal-soal Review<br />
Berikan soal-soal penerapan yang berkaitan dengan kerapatan susunan molekul.</p>
<p>Langkah 4 : Memberikan Umpanbalik<br />
Berikan umpanbalik atau informasi apakah jawaban peserta didik benar atau salah. Jika benar berikan konfirmasi, jika salah berikan koreksi atau pembetulan.</p>
<p>Langkah 5: Tes<br />
Berikan tes untuk menilai apakah peserta didik benar-benar telah memahami perbedaan indeks bias medium. Soal tes hendaknya  berbeda dengan contoh kasus yang telah diberikan pada saat penyampaian fakta.</p>
<p>2.	Strategi penyampaian konsep<br />
Materi pembelajaran jenis konsep  adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar peserta didik paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan, menggeneralisasi, dsb.</p>
<p>Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis  ”Konsep”:<br />
(a)	Sajikan Konsep<br />
(b)	Berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan contoh)<br />
(c)	Berikan soal-soal latihan dan tugas<br />
(d)	Berikan umpanbalik<br />
(e)	Berikan tes.</p>
<p>Contoh: Penyajian konsep tindak pidana pencurian</p>
<p>Langkah 1:  Penyajian konsep<br />
Sesuai pasal 362 KUHP, “Barang siapa dengan sengaja mengambil barang milik orang lain  dengan melawan hukum dengan maksud untuk dimiliki dihukum dengan hukuman penjara sekurang-kurangnya  … tahun.”</p>
<p>Langkah 2: Pemberian bantuan<br />
Pertama peserta didik dibantu untuk memahami konsep dengan kalimat sendiri, tidak harus hafal verbal terhadap konsep yang dipelajari (dalam hal ini Pasal pencurian). Kedua tunjukkan unsur-unsur pokok konsep tindak pidana pencurian, yaitu: (a) mengambil barang (bernilai ekonomi); (b) barang itu milik orang lain; (c) dengan melawan hukum (tanpa seizin yang empunya); (d) dengan maksud dimiliki (mengambil uang untuk jajan). Contoh positif. Wawan malam hari masuk pekarangan Ali dengan merusak pintu pagar (sengaja)  mengambil (melawan hukum) material bangunan berupa besi beton (barang milik orang lain), kemudian dijual, uangnya untuk membeli beras (dengan maksud dimiliki). Contoh negatif/salah (bukan contoh tapi mirip). Badu  meminjam sepeda Gani tidak dikembalikan melainkan dijual, uangnya untuk membeli makanan. Dari contoh negatif atau contoh yang salah ini, unsur-unsur “sengaja mengambil barang milik orang lain dengan maksud dimiliki” terpenuhi,  tetapi ada satu unsur yang tidak terpenuhi, yaitu “melawan hukum”, karena “meminjam”. Jadi  pengambilan barang seizin yang empunya. Karena itu perbuatan tersebut bukan termasuk tindak pidana pencurian, melainkan penggelapan.</p>
<p>Langkah 3: Latihan<br />
Pertama, peserta didik diminta menghafal dengan kalimat sendiri (hafal parafrase) Kemudian peserta didik diminta memberikan contoh  kasus pencurian  lain selain yang dicontohkan oleh guru untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap materi tindak pidana pencurian.</p>
<p>Langkah 4: Umpan balik<br />
Berikan umpan balik atau informasi apakah peserta didik benar atau salah dalam memberikan contoh. Jika benar berikan konfirmasi, jika salah berikan koreksi atau pembetulan.</p>
<p>Langkah 5: Tes<br />
Berikan tes untuk menilai apakah peserta didik benar-benar telah paham terhadap materi tindak pidana pencurian. Soal tes hendaknya  berbeda dengan contoh kasus yang telah diberikan pada saat penyampaian konsep dan soal latihan untuk menghindari murid hanya hafal tetapi tidak paham.</p>
<p>3.	Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip<br />
Termasuk materi pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, hukum (law), postulat, teorema, dsb.<br />
Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis “prinsip”<br />
(a)	Berikan prinsip<br />
(b)	Berikan bantuan berupa contoh penerapan  prinsip<br />
(c)	Berikan soal-soal latihan<br />
(d)	Berikan umpan balik<br />
(e)	Berikan tes.</p>
<p>Contoh:<br />
Strategi penyampaian materi Nilai Fungsi Trigonometri<br />
di berbagai Kuadran Sudut.</p>
<p>Langkah 1 : Penyajian Materi  Prinsip<br />
Sajikan materi dengan lisan, tulisan, gambar ataupun slide presentasi. Tunjukkan nilai fungsi trigonometri di setiap kuadran melalui perbandingan dengan sudut lancip, sehingga diperoleh tanda bilangan positif atau negatif untuk setiap fungsi sinus, cosinus dan tangen di setiap kuadran.</p>
<p>Langkah 2 : Memberi Bantuan<br />
Berikan bantuan kepada peserta didik untuk menerapkan rumus yang diberikan. Guna menghafal tanda-tanda bilangan dari setiap nilai fungsi Trigonometri di tiap kuadran, bisa juga diberi bantuan untuk menghafal. (Ingat! Bantuan penyampaian materi secara bermakna, misalnya menggunakan cara berpikir tertentu untuk membantu menghafal. Bentuk penyampaian secara bermakna, menggunakan jembatan ingatan, jembatan keledai, atau mnemonics,  asosiasi berpasangan, dsb ). Sebagai contoh, untuk menghafal tanda-tanda nilai fungsi trigonometri digunakan cara berpikir: apa, oleh siapa, dengan menggunakan bahan, alat, teknik, dan lingkungan seperti apa? Berdasar kerangka berpikir tersebut, bantuan mengingat-ingat tanda-tanda nilai fungsi trigonometri tersebut menggunakan jembatan keledai, jembatan ingatan (mnemonics) menjadi ASTAKO atau YASTAKO (semua, sinus, tangen, kosinus).</p>
<p>Langkah 3 : Soal-soal Review<br />
Berikan soal-soal penerapan yang berkaitan dengan penentuan nilai fungsi Trigonometri di berbagai kuadran</p>
<p>Langkah 4 : Memberikan Umpan Balik<br />
Berikan umpan balik atau informasi apakah jawaban peserta didik benar atau salah. Jika benar berikan konfirmasi, jika salah berikan koreksi atau pembetulan.</p>
<p>Langkah 5: Tes<br />
Berikan tes untuk menilai apakah peserta didik benar-benar telah paham terhadap nilai fungsi Trigonometri di berbagai kuadran. Soal tes hendaknya  berbeda dengan contoh kasus yang telah diberikan pada saat penyampaian fakta dan soal latihan untuk menghindari murid hanya hafal tetapi sebenarnya tidak paham.<br />
4.	Strategi Penyampaian Prosedur<br />
Tujuan mempelajari prosedur adalah agar peserta didik dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal. Termasuk materi pembelajaran  jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas secara urut. Misalnya langkah-langkah menghidupkan televisi, menghidupkan  dan mematikan komputer.<br />
Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi:<br />
a.	menyajikan prosedur<br />
b.	pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana cara melaksanakan prosedur<br />
c.	memberikan latihan (praktik)<br />
d.	memberikan umpanbalik<br />
e.	memberikan tes.</p>
<p>Contoh, Mata Pelajaran TIK:<br />
Prosedur memasang kabel UTP pada konektor RJ-45 pada jaringan lokal.</p>
<p>Langkah 1: Menyajikan prosedur<br />
Sajikan langkah-langkah atau prosedur memasang kabel UTP pada konektor RJ-45 dengan menggunakan gambar atau slide presentasi.</p>
<p>Langkah 2: Memberikan bantuan<br />
Beri bantuan agar peserta didik hafal tentang warna kabel, urutan sesuai jenis sambungan, cara memegang konektor RJ-45 dan menggunakan tang crimping.</p>
<p>Langkah 3: Memberikan latihan<br />
Tugasi peserta didik melakukan praktik berlatih dengan atau tanpa melakukan crimping untuk satu jenis sambungan, misalnya straight.</p>
<p>Langkah 4: Memberikan umpan balik<br />
Beritahukan apakah yang dilakukan peserta didik dalam praktik sudah betul atau salah. Beri konfirmasi jika betul, dan koreksi jika salah.</p>
<p>Langkah 5: Memberikan tes<br />
Berikan tes memasang kabel dengan jenis sambungan yang berbeda, misalnya crossover.</p>
<p>5.	Strategi penyampaian materi aspek sikap (afektif)<br />
Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) menurut Bloom (1978) adalah pemberian respons, penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan penilaian. Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain:  penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi, penyampaian ajaran atau dogma.</p>
<p>Contoh: pada mata pelajaran Sosiologi kelas X yaitu  memberikan contoh peran nilai dan  norma dalam masyarakat.<br />
Strategi Penciptaan Kondisi: Agar memiliki sikap normatif dalam kehidupan bermasyarakat, di depan loket dipasang jalur untuk antre berupa pagar besi yang hanya dapat dilalui seorang demi seorang secara bergiliran.</p>
<p>Strategi Pemodelan atau Contoh: Disajikan contoh atau model seseorang yang tidak memiliki sikap normatif, yaitu seseorang yang tidak mau tertib dalam antrean.</p>
<p>D.	Strategi Belajar<br />
Ditinjau dari sisi guru, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran berupa kegiatan guru menyampaikan atau membelajarkan kepada peserta didik (teaching activity). Sebaliknya, ditinjau dari sisi peserta didik, perlakuan terhadap materi pembelajaran berupa mempelajari atau berinteraksi dengan materi pembelajaran (learning activity).</p>
<p>Secara khusus dalam belajar, kegiatan peserta didik dapat dikelompokkan menjadi menghafal, menggunakan, menemukan, dan memilih.<br />
Penjelasan dan contoh berikut adalah minimal. Guru dipersilakan melakukan pengembangan disesuaikan dengan metode-metode lebih mutakhir yang dimiliki:</p>
<p>1)	Menghafal<br />
Ada dua jenis menghafal, yaitu menghafal verbal (remember verbatim) dan menghafal parafrase (remember paraphrase). Menghafal verbal adalah menghafal persis seperti apa adanya. Terdapat materi pembelajaran yang memang harus dihafal persis seperti apa adanya, misalnya nama orang, nama tempat, nama zat, lambang, peristiwa sejarah, nama-nama bagian atau komponen suatu benda, dsb. Sebaliknya ada juga materi pembelajaran yang tidak harus dihafal persis seperti apa adanya tetapi dapat diungkapkan dengan bahasa atau kalimat sendiri (hafal parafrase). Yang penting peserta didik paham atau mengerti, misalnya paham inti isi Pembukaan UUD 1945, definisi saham, dalil Archimedes, dsb.</p>
<p>2)	Menggunakan/Mengaplikasi<br />
Materi pembelajaran setelah dihafal atau dipahami kemudian  digunakan atau diaplikasikan. Jadi dalam proses pembelajaran peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan, menerapkan atau mengaplikasi materi yang telah dipelajari.</p>
<p>Penggunaan fakta atau data adalah untuk dijadikan bukti dalam rangka pengambilan putusan. Contoh,  berdasar hasil penggalian ditemukan fakta terdapatnya emas perhiasan yang sudah jadi, setengah jadi, perhiasan yang telah rusak, tungku, bahan emas batangan di bekas peninggalan sejarah di Desa Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah. Dengan menggunakan fakta tersebut, ahli sejarah menyimpulkan bahwa lokasi tersebut adalah bekas tempat pengrajin emas.</p>
<p>Penggunaan materi konsep adalah untuk menyusun proposisi, dalil, atau rumus. Seperti diketahui, dalil atau rumus merupakan hubungan antara beberapa konsep. Misalnya,  dalam berdagang “Jika penjualan lebih besar daripada  modal maka akan terjadi laba atau untung”. Konsep-konsep dalam jual beli tersebut meliputi penjualan, biaya modal, laba, untung, dan konsep “lebih besar”.</p>
<p>Selain itu, penguasaan atas suatu konsep digunakan untuk menggenerali-sasi dan membedakan. Contoh, seorang anak yang telah memahami konsep “jam adalah alat penunjuk  waktu”, akan dapat menggeneralisasi bahwa bagaimanapun berbeda-beda bentuk dan ukurannya, dapat menyimpulkan bahwa benda tersebut adalah jam.</p>
<p>Penerapan atau penggunaan prinsip adalah untuk memecahkan masalah pada kasus-kasus lain. Contoh, seorang peserta didik  yang telah mampu menghitung luas persegi panjang setelah mempelajari rumusnya,  dapat menentukan luas persegi panjang di mana pun dan berapa pun besarnya panjang dan lebar persegi panjang yang harus dihitung luasnya.</p>
<p>Penggunaan materi prosedur adalah untuk dikerjakan  atau dipraktikkan. Seorang peserta didik yang telah menguasai cara dan berlatih  mengendarai sepeda motor, dapat mengendarai sepeda motor tersebut.</p>
<p>Penggunaan prosedur (psikomotorik) adalah untuk mengerjakan tugas atau melakukan suatu perbuatan. Sebagai contoh, peserta didik dapat mengendarai sepeda motor setelah menguasai langkah-langkah atau prosedur mengendarai sepeda motor.</p>
<p>Penggunaan materi sikap adalah berperilaku sesuai nilai atau sikap yang telah dipelajari. Misalnya, peserta didik berhemat air dalam mandi dan mencuci setelah mendapatkan pelajaran tentang pentingnya bersikap hemat.</p>
<p>3)	Menemukan<br />
Penemuan di sini adalah menemukan cara memecahkan masalah-masalah baru dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang telah dipelajari. Menemukan, merupakan hasil belajar tingkat tinggi. Gagne (1987) menyebutnya sebagai penerapan strategi kognitif. Misalnya, setelah mempelajari hukum bejana berhubungan seorang peserta didik dapat membuat peralatan penyiram pot gantung menggunakan pipa-pipa paralon. Contoh lain, setelah mempelajari sifat-sifat angin yang mampu memutar baling-baling peserta didik dapat membuat prototipe, model, atau maket sumur kincir angin untuk mendapatkan air tanah.<br />
4)	Memilih<br />
Memilih di sini menyangkut aspek afektif atau sikap. Yang dimaksudkan dengan memilih di sini adalah memilih untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Misalnya memilih membaca novel daripada membaca tulisan ilmiah. Memilih mentaati peraturan lalu lintas tetapi terlambat masuk sekolah atau memilih melanggar tetapi tidak terlambat, dsb.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sman2tarakan.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sman2tarakan.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman2tarakan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman2tarakan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman2tarakan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman2tarakan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman2tarakan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman2tarakan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman2tarakan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman2tarakan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman2tarakan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman2tarakan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman2tarakan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman2tarakan.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman2tarakan.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman2tarakan.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman2tarakan.wordpress.com&amp;blog=3982793&amp;post=9&amp;subd=sman2tarakan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman2tarakan.wordpress.com/2008/06/17/ada-apa-dengan-bbm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/529753d2450987c473b7ed59a2e59d73?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sman2tarakan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
